Minggu, 05 Februari 2012

Hasil Perenungan

Haiiiiii,,, masih ingat blog saya sebelumnya tentang “Renungan Untuk Pedongkelan” dan kutipan dari  pertanyaan saya di  tulisan itu:

Kira-kira bisa ga ya kita mengusahakan bantuan pendidikan mereka, mencarikan sponsor untuk mereka supaya bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya??

Mungkin, tidak semua adik-adik disana bisa kita bantu, tapi siapa tauu sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit J dari satu orang anak bisa menjadi beberapa anak? Hehe

Sedikit pengalaman pribadi saya, ketika seorang teman saya memperkenalkan istilah “Sharing is Caring” dan merasakan dampak dari ungkapan tersebut, maka saya mau melanjutkan ungkapan tersebut ke adik-adik Pedongkelan, dan supaya mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan saat itu..

Jadii,, kira-kira hasil renungan saya malam ini bisa terealisasi ga yaa kakak-kakak?? J

Dan akhirnya setelah saya share blog tersebut, kak @witnurs @artienya @irzaa37 @IndahWardhani juga tertarik untuk menjadi kakak asuh mereka,, dan pun mereka sama-sama memiliki kedekatan personal dengan adik-adik disana,, dan kemudian ada @RayaMaradina dan Vega yang juga mau ikutan bergabung,, hehe


Bahkan kita pun juga pernah jalan-jalan bareng ma mereka ke Planetarium dan nonton film The Adventure of Tin-Tin :D dan inilah beberapa foto dari jalan-jalan kita saat itu (special thanks to @SophiaRengganis for the pics :p)






Nah, kembali ke tujuan awal saya nulis ini,, jadi setelah terkumpul teman-teman yang ingin menjadi kakak asuh mereka,, maka kita pun brainstorming *tsahhh :p metode bantuan pendidikan seperti apa yang ingin kita berikan ke mereka? Siapa aja anak-anaknya? Bagaimana estimasi biayanya? Dan inilah hasil kasak-kusuk kami di Whatsapp ;p


Metode Bantuan Pendidikan Seperti Apa Yang Kita Berikan??
Ok, metode bantuan pendidikan yang akan kita berikan adalah bantuan pendidikan yang bisa membantu mereka untuk mencapai cita-cita mereka sehingga bisa menjadi individu yang mandiri. Wowww kan yaa,, memang wow bagi kami semua,, karena ini merupakan bentuk bantuan pendidikan yang memiliki jangka panjang. Jadi, membutuhkan komitmen yang tinggi pula untuk menjadi kakak asuh bagi mereka.


Lantas, langkah apa yang mau kita lakukan? Ok, karena ini merupakan tahap pertama, apabila melihat latar belakang pendidikan mereka di SD Yayasan Bintang Pancasila, yang menurut kami kurang kondusif, maka diputuskanlah kami akan memberikan bantuan tambahan pelajaran bagi anak-anak, yaitu dengan mendatangkan Guru Privat untuk membantu ketertinggalan mereka dari anak-anak seusia mereka..


Siapa Saja Anak-Anaknya??
Berdasarkan hasil pertimbangan maka diputuskan bahwa anak-anak yang akan menjadi adik asuh kami saat ini adalah anak-anak kelas 5 SD Yayasan Bintang Pancasila yang berjumlah 5 orang. Kenapa hanya anak kelas 5-nya saja? Pertimbangannnya adalah karena SD Yayasan Bintang Pancasila merupakan SD satelit yang berdiri di atas tanah sengketa milik Negara, sehingga mereka hanya dapat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar hingga kelas 5 SD, dan anak-anak harus melanjutkan kelas 6 SD di sekolah lain.


Nahhh,, supaya mereka mampu menyamakan kemampuan mereka dengan anak-anak lain ketika mereka pindah sekolah, diputuskanlahh kita akan membantu anak-anak kelas 5-nya duluuu :P (Insya Allah yang lain menyusul *nunggu donatur lagihh*)


Bagaimana Estimasi Biayanya??
Karena kegiatan ini juga baru dimulai, maka tahap awalnya adalah biaya untuk Guru Privat.. Akhirnya setelah tanya sana sini dan bertemulah dengan teman SMA saya Agun, yang kebetulan pula dia mengelola situs www.belajarkelompok.com . Dari hasil diskusi dengan Agun, dia juga tertarik dengan ide ini, dan diputuskan untuk membantu kami (Yeayyy!!) untuk mencarikan tenaga pengajar dan membuatkan charity program di situsnya tersebut (pls cekidot http://www.belajarkelompok.com/Portal/viewtopic.php?f=2&t=46 ;p), dimana pada charity program tersebut nantinya bisa mempertemukan antara Anak tidak mampu yang memiliki semangat untuk mengembangkan diri, donatur dan tenaga pengajar (ini untuk kedepannya lohh :p).


Nahh,, balik ke estimasi biaya, dan perhitungannya adalah sbb:
Biaya Per Kedatangan Rp. 75.000,00 jadwal kunjungan adalah seminggu 2 kali dimana setiap pertemuannya itu 2 jam, sehingga kalkulasinya adalah Rp. 75.000x2hrx4minggu = Rp. 600.000


Nantinya, anak-anak akan belajar secara berkelompok, dimana tenaga pengajarnya pun akan menyiapkan materi yang akan diberikan dan menyampaikan progress pendidikan ke kami sebulan sekali melalui email hehehe (ceritanya sokk propesional :p)


Oia, yang belum tau lokasi SD Yayasan Bintang Pancasila, SD ini berlokasi di daerah Pedongkelan, Pulogadung Jakarta Timur, kalau dari arah ITC Cempaka Mas naik bis Transjakarta arah Pulo Gadung hanya satu halte setelah ITC Cempaka Mas J


Nah begitulah hasil tindakan dari renungan malam saat itu,, hehehe Meskipun kegiatan kakak asuh ini merupakan inisitiatif dari masing-masing individu, namun tidak menutup teman-teman yang lain untuk ikutan bergabung jadi donatur, karena harapan kami adalah bisa membantu sebanyak mungkin adik-adik untuk menggapai mimpi mereka dan menjadi individu yang mandiri yang bisa membawa perubahan untuk lingkungan sekitar mereka.


Jadi bagi teman-teman yang ingin bergabung bisa menghubungi kami di akun-akun twitter tersebut atau ke hadining.kusumastuti@gmail.com, atau bisa juga melalui website www.belajarkelompok.com nanti mekanisme donaturnya akan kami jelaskan lebih lanjut, pun apabila ingin bertemu dengan adik-adik Pedongkelan untuk mengenal mereka lebih lanjut, dan tergerak untuk menjadikan salah satu dari mereka sebagai adik asuh teman-teman sekalian :p *tetep usaha*


“Yukkk,, bantu adik-adik disana untuk menjadi pribadi yang mandiri yang kelak mampu membawa perubahan bagi lingkungan sekitar mereka..”
Mengutip kata pengantar  dari mbak @pasarsapi aka Ainun Chomsun di buku #KakiMimpi – nya @shoeboxproject :
“Berilah kaki di setiap mimpi agar turun ke bumi dan berlari, jangan biarkan menggantung  di awang-awang kemudian terbang dan hilang” 



Kamis, 08 Desember 2011

Secuil Cerita di Jumat Pagi

Tulisan ini terinspirasi ketika saya melihat pasangan kakek nenek yang mau olahraga pagi,, tiba-tiba senyum merekah, berkhayal kalau kelak saya bisa melakukan hal tersebut dengan pasangan saya kelak =)) hahaha.

Tapi, tidak mudah ternyata yaa bertemu dengan pasangan yang bener-bener “klik” sama diri kita, selalu merasakan ada saja hal yang kurang sempurna dari pasangan. Tapi bagi mereka yang udah ketemu pasangan yang “klik” berbahagialahhh.  Karenaa menurut saya, tidak ada pasangan yang sempurna, tidak ada juga pasangan yang benar-benar  “klik” buat kita.

Chemistry antara pasangan itu dibangun berdasarkan komunikasi dan kebersamaan yang intens, jadinya masing-masing dari pasangan pasti akan selalu menyesuaikan.  =) dan voilaaa,,, bertemulah kita dengan pasangan yang sempurna ituuu,, dengan segala ketidaksempurnaannya tentu saja..

Saya yakin, pasangan kakek nenek itu pasti sudah melewati pahit manis kehidupan bersama-sama dan punya komitmen terhadap pernikahan mereka, karena g mudah sodaraa-sodara yang namanya komitmen ituu.. *glek*

Pasangan sempurna itu tidak ada, karena tugas kitalah untuk menyempurnakannya,, ketika sudah menemukannya jagalahh,, nikmatilahh,, jangan sampai kehilangan,, jangan menyisakan sesal yang tidak berguna  =))

Happy Friday Y’all!!!


Nb: Maap, mendadak melankolis dramatisss hahahaha..

Sabtu, 05 November 2011

Renungan untuk Pedongkelan

My first blog goes to adik-adik Pedongkelan yeayyy… J


Kenapa si mereka begitu spesial di hati saya? Hehe, baiklah akan saya ceritakan, yuukk…

Berawal dari kegiatan @shoeboxproject yang saya ikuti di bulan April 2011 yang lalu, sebuah kegiatan melakukan renovasi sekolah dan perpustakaan sederhana untuk SD Yayasan Bintang Pancasila di daerah Pedongkelan, kemudian setelahnya ada kunjungan seminggu sekali untuk story telling selama sebulan, “untuk memastikan mereka membaca buku yang sudah disediakan atau ngga” :p

Dan semua berawal dari kunjungan ituuu..

Ga menyangka kalau mereka antusias dengan kedatangan kita saat story telling tsb, mereka berusaha menarik perhatian kita yang datang pada saat itu,, bener ga kak @artienya @irzaa37 @IndahWardhani @witnurs @rmonoarfa ?? *hmm atau itu cm pian, wisnu dkk aja y?? :D* mereka pada semangat untuk story telling di depan kelas, *walaupun pada akhirnya pada baca ulang buku di depan kelas juga :p* trus kalau ketemu kita di jalan mereka ga segan-segan menghampiri dan menyalami kita satu persatu gituu,, nice kann J mereka juga ngajakin main futsal bareng di lapangan mereka,, dan berbagai tingkah lucu mereka saat itu hehe..

Sampai ketika mereka ikut berpartisipasi di kegiatan @shoeboxproject 10 kemarin, menurut @irzaa37 @artienya dan @witnurs, mereka bertanya kenapa kita ga pernah datang lagi? Dan ketika mendengarnya, muncul perasaan “deg” oiaa,, ternyata kehadiran kita disana juga membekas di hati adik-adik disana, dan setelah berdiskusi panjang mengenai jadwal  kapan kita akan kesana,, diputuskan tanggal 13 November besok kita akan main-main sama mereka tapi minus @IndahWardhani dan @rmonoarfa L

Tapi malam ini, sebuah pemikiran terlintas, jadi inget sharing dengan ibu Eli saat itu, yaitu kalau SD mereka hanya bisa menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar hingga kelas 5 SD, hal ini karena sekolah mereka berdiri di atas lahan sengketa sehingga sekolah tersebut tidak diakui oleh Kemendiknas, jadi mereka ga bisa menyelenggarakan Ujian Nasional. Jadi, kalau adik-adik disana mau melanjutkan sekolah mereka harus pindah ke sekolah lain,,

Dan pertanyaan berikut pun muncul di benak saya,,

Apakah semua dari mereka melanjutkan pendidikan mereka ke kelas 6?
Apakah semua dari mereka bisa melanjutkan sekolah mereka ke jenjang berikutnya?

Wajar saja pertanyaan ini muncul di benak saya, karena orang tua mereka kebanyakan memiliki keterbatasan ekonomi, itulah kenapa mereka bersekolah disana, selain tidak membutuhkan biaya transport untuk ke sekolah. Bahkan ibu-ibu warung yang berjualan di depan sekolah situ, tidak mau menyekolahkan anaknya disana, dengan alasan karena tanggung kelas  6 harus pindah ke SD lain.

Pertanyaan selanjutnya,,

Saya jadi berpikir kira-kira bisa ga ya kita mengusahakan bantuan pendidikan untuk mereka, mencarikan sponsor atau kakak asuh supaya mereka bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya??

Mungkin, tidak semua adik-adik disana bisa kita bantu, tapi siapa tauu sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit J dari satu orang anak bisa menjadi beberapa anak? Hehe

Sedikit pengalaman pribadi saya, ketika seorang teman saya memperkenalkan istilah “Sharing is Caring” dan merasakan dampak dari ungkapan tersebut, maka saya mau melanjutkan ungkapan tersebut ke adik-adik Pedongkelan, dan mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan saat itu.. *sok Pay it Forward de gw :p*

Jadii,, kira-kira hasil renungan saya malam ini bisa terealisasi ga yaa kakak-kakak?? J